Rahasia Nikmat yang Tak Terhitung
- immupnjatim5

- 1 Nov 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 14 Des 2025

Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim Ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)
Ayat ini adalah janji Allah yang pasti benar. Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”, tetapi juga pengakuan hati atas nikmat, lisan yang memuji Allah, serta perbuatan yang menggunakan nikmat itu untuk taat kepada-Nya.
Rasa syukur adalah tanda keimanan yang tinggi. Hamba yang bersyukur akan selalu melihat setiap hal dengan sudut pandang yang positif, karena ia menyadari bahwa tidak ada satu pun nikmat yang datang kecuali dari Allah. Bahkan ketika diuji oleh Allah sekalipun, hamba yang bersyukur tetap menganggap ujian itu sebagai cara Allah mengangkat derajatnya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Muslim:
"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain seorang mukmin.
Kemudian Rasulullah melanjutkan
إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya.
وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.
Dan jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya.”
Ini yang disebut oleh Rasulullah bahwa menakjubkan nya diri seseorang mukmin. Jika kita mampu menempatkan diri kita terhadap ketentuan nya Allah, jika diberi nikmat kita syukuri, dan jika diberi musibah kita bersabar maka itu baik bagi diri kita.
Rasa syukur merupakan kunci ketenangan hidup. Banyak dari kita yang merasa kekurangan padahal hidupnya penuh nikmat. Kita tidak menyadari betapa besar karunia Allah yang telah diberikan kepadanya. Bahkan terlalu banyaknya nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita, sampai-sampai kita tidak akan bisa menghitung nikmat tersebut. Allah telah berfirman dalam Surah An-Nahl Ayat 18:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
Setiap tarikan nafas, setiap detak jantung, setiap langkah yang masih bisa kita ayunkan adalah nikmat besar yang sering kali tidak kita sadari.
Namun, syukur bukanlah hanya dalam ucapan. Syukur sejati adalah perpaduan antara hati, lisan, dan amal.
Syukur dengan hati adalah menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT.
Syukur dengan lisan adalah memuji Allah, mengucapkan “Alhamdulillah,” serta menceritakan nikmat dengan kebaikan, bukan kesombongan.
Syukur dengan amal adalah menggunakan nikmat itu untuk ketaatan kepada Allah, bukan untuk kemaksiatan.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Saba’ Ayat 13:
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Beramallah, wahai keluarga Dawud, sebagai tanda syukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.”
Ayat ini menegaskan bahwa syukur sejati bukan hanya ucapan, tetapi tindakan nyata. Bahkan Nabi Dawud ‘alaihissalam dan keluarganya diperintahkan untuk “beramal sebagai bentuk syukur.”
Teladan Syukur dari Rasulullah Saw
Rasulullah SAW adalah manusia yang paling bersyukur kepada Allah SWT. Dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa beliau sering shalat malam hingga kaki beliau bengkak. Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya mengapa beliau begitu bersungguh-sungguh padahal dosa beliau telah diampuni, beliau menjawab:
قَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”
Subhanallah, inilah bentuk syukur Rasulullah yang paling mulia. Beliau bersyukur bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan ibadah dan ketaatan yang mendalam. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa syukur tertinggi adalah ketaatan, bukan sekadar perasaan bahagia karena mendapat nikmat dunia.
Rasulullah SAW juga sering mengajarkan doa-doa syukur kepada para sahabatnya. Di antaranya doa setelah bangun tidur:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami (tidur), dan hanya kepada-Nya kami kembali.”
(HR. Bukhari)
Begitulah Rasulullah SAW, beliau mengajarkan agar setiap momen kehidupan diisi dengan rasa syukur, bahkan dalam hal-hal kecil seperti bangun tidur, makan, minum, hingga berpakaian. Semua dimulai dengan “Bismillah” dan diakhiri dengan “Alhamdulillah.”
Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur
Periode 2025 / 2026
Penulis: Rumus Brian Baraka | Editor: Rumus Brian Baraka



Komentar