Dilema Tokoh Utama: Mengapa Mengejar Kesempurnaan di Media Sosial Sungguh Melelahkan?
- immupnjatim5

- 11 Jan
- 4 menit membaca

Narasi Media Sosial vs Kehidupan Nyata
Di era digital saat ini, media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang berbagi, melainkan ‘arena’ pengelolaan citra kehidupan agar terlihat sempurna setiap saat. Kesuksesan akademik, pencapaian organisasi, hingga gaya hidup estetis—terus muncul di layar gadget, dan membentuk standar tidak tertulis di kalangan anak muda, khususnya mahasiswa.
Kondisi ini perlahan mendorong kita, untuk ‘nyaman’ sekaligus ‘terjebak’ pada kompetisi ‘perbandingan diri’. Kehidupan terasa harus terus mengikuti apa yang dianggap ‘ideal’, dan mulai menyadari bahwa banyak sekali ketidaksesuaian yang muncul—antara kehidupan nyata dengan kehidupan yang ditampilkan di sosial media.
Keinginan untuk selalu tampil sebagai main character—atau tokoh utama yang selalu menonjol dan menarik perhatian, kemudian melahirkan kondisi yang disebut Main Character Syndrome. Mahasiswa yang terjebak dalam kondisi ini, akan cenderung menormalisasi kelelahan fisik dan tekanan emosional demi mempertahankan reputasi diri—yang dianggap unggul di mata publik.
Masalahnya, kehidupan kampus pun pada nyatanya juga jarang sekali berjalan secara ideal. Maka ketika obsesi untuk tampil sempurna terus dipaksakan, jurang antara ekspektasi digital dan kenyataan semakin melebar, dan kecemasan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Manajemen Impresi, FOMO, dan Krisis Autentisitas Mahasiswa di Media Sosial
Salah satu faktor yang mendorong mahasiswa untuk terus menjaga ‘kepura-puraan’ demi anggapan yang baik di media sosial, adalah karena impression management (manajemen impresi). Intinya, media sosial digunakan sebagai wadah utama untuk mengatur bagaimana dirinya ‘dipersepsikan’ oleh orang lain.
Mengelola impresi seringnya melalui unggahan yang bersifat validatif—entah pencapaian akademik atau keterlibatan dalam agenda yang dianggap penting. Dalam konteks ini, aktivitas tidak lagi dinilai dari makna personalnya, melainkan dari sejauh mana ia mampu memperkuat citra diri di ruang publik.
Setelah kepura-puraan yang dikelola hanya untuk engagement, muncul pula kepanikan sosial akibat FOMO (Fear of Missing Out). Dengan melihat kesibukan dan produktivitas orang lain, kita kerap merasa ada tekanan sosial yang secara tidak langsung seperti berkata, “Kamu harus begini”, “Kamu harus begitu.”
Akhirnya, ketika FOMO dan cenderung belum memiliki prinsip untuk mengambil keputusan, kita terdorong mengikuti tren. Ikut arus sajalah, “Yang penting tidak kelihatan kudet.” Meski terkadang, tren juga bisa membawa kita menjadi pribadi yang justru impulsif dan konsumtif. Bahkan terpaksa menjadi mahasiswa yang terlibat dalam berbagai organisasi atau kepanitiaan, yang semata-mata agar persepsi orang lain terhadap hidupnya tidak terlihat pasif.
Kepura-puraan, dan dorongan yang tidak berangkat dari kebutuhan diri akan berisiko menumpuk kelelahan mental—hingga berujung pada burnout. Di saat yang sama, konsep self-love juga mengalami pergeseran makna. Mencintai diri sendiri tidak lagi dimaknai sebagai proses penerimaan, melainkan kebergantungan pada validasi eksternal berupa jumlah likes dan komentar. Ketika nilai diri digantungkan oleh respons digital—tanpa segera disadari, maka perlahan akan mengarah pada kecenderungan narsistik.
Konsekuensi Psikologis dari Kebiasaan Memalsukan Diri
Upaya mempertahankan kepalsuan diri sebagai “tokoh utama” di sosial media, maupun di kehidupan nyata—dapat membawa konsekuensi serius terhadap kesehatan mental mahasiswa.
Realitas perkuliahan pada dasarnya lebih banyak diwarnai oleh proses yang repetitif dan tidak selalu memberi kepuasan instan, seperti membaca literatur atau mengerjakan tugas. Tapi karena adanya tuntutan untuk terus menampilkan momen yang “layak ditampilkan”, akhirnya mendorong mahasiswa untuk mengaburkan realitas—dan menggantinya dengan apa saja yang sekiranya, “Ah yang penting keliatan produktif,” meski nyatanya bermalas-malasan.
Di sisi lain, juga kerap munculnya beban kerja emosional. Artinya, karena lingkungan kampus tidak selalu suportif, dengan banyaknya dinamika seputar ‘kompetisi’—maupun konflik interpersonal. Ujung-ujungnya, muncul lagi ‘ilusi keharusan’—untuk terus menampilkan citra bahagia di hadapan publik, sehingga menjadi kerja emosional yang sangat menguras psikologis kita.
Kebiasaan “ber-akting” yang berlangsung secara terus-menerus akan berpotensi melahirkan kecemasan, dan rasa keterasingan. Meski secara digital kita ‘tampak’ memiliki jejaring sosial yang luas, relasi yang terbangun sering kali bersifat dangkal. Sehingga kondisinya semakin kacau, karena jarak antara apa yang ditampilkan ke orang lain tidak sama dengan apa yang benar-benar dirasakan di dalam diri.
Menata Ulang Relasi dengan Media Sosial
Agar tidak terus terjebak dalam ekspektasi selalu terlihat baik, sibuk, produktif, dan bahagia—yang dibentuk oleh media sosial, perlu adanya pergeseran perspektif yang lebih sehat dan reflektif. Salah satu cara yang mungkin terasa sulit di awal, adalah dengan menerapkan batasan digital secara sadar, yakni dengan membatasi intensitas interaksi di media sosial untuk memberi ruang bagi proses refleksi diri tanpa tekanan perbandingan sosial yang terus-menerus.
Selain itu juga, penting untuk menerima bahwa tidak seluruh aspek kehidupan harus tampil sebagai ‘pusat perhatian’. Kesadaran bahwa menjalani seapa-adanya dalam kehidupan, dan bukanlah sebagai bentuk kegagalan. Melainkan bagian kewajaran dari dinamika sosial, yang justru memungkinkan kita sebagai individu—untuk terlibat secara lebih otentik dan bermakna. Dan tidak sempurna pun sangat tidak apa. Karena suatu kemustahilan jika seseorang dapat menjalani semuanya tanpa kurang, atau kesalahan sedikitpun.
Hidup yang dijalani semata-mata demi memenuhi kebutuhan konten pada akhirnya hanya akan melahirkan kelelahan psikologis. Oleh karenanya, mahasiswa perlu berhenti memaksakan diri sebagai “tokoh utama” di ruang digital, dan mulai mengapresiasi kebahagiaan yang tumbuh dari realitas kehidupan yang dijalani secara utuh dan jujur.
Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur
Periode 2025 / 2026
Penulis: Baiq Zahra Maulidia Millati Aisyah | Editor: Ahmad Dzaki Akmal Yuda



Komentar