Pikiranmu Ingin Taat Tapi Hatimu Bermaksiat
- immupnjatim5

- 6 Nov 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 24 Nov 2025

Banyak orang mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari kebiasaan buruk yang membuat mereka terus terjerumus dalam dosa. Ketika seseorang menghadapi konflik batin akibat dorongan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip atau keyakinannya, hal tersebut menjadi bagian dari perjuangan spiritual dalam iman seorang Muslim. Tanpa diimbangi dengan ketaatan, perjuangan batin ini akan menjadi sia-sia.
Selain mengurangi pahala amal kebaikan, perbuatan maksiat juga membawa dampak buruk lainnya. Orang yang berbuat dosa bisa menjadi hina di hadapan Allah dan cenderung berperilaku zalim. Seharusnya, jika seseorang memiliki akhlak dan kepribadian yang baik, Allah akan melindunginya dari godaan maksiat. Namun, ketika seseorang melakukan dosa, pintu kebaikan dalam hatinya akan tertutup sehingga ia dapat digolongkan sebagai orang yang lalai dari Allah. Pada awalnya, hati manusia mungkin menolak untuk melakukan dosa, tetapi setelah terjadi perdebatan batin, hati tersebut dapat terpengaruh dan tertutupi oleh rahnĀ atau titik hitam yang kemudian mengunci hatinya. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa semakin banyak dosa dilakukan, semakin tertutup pula pintu kebaikan dalam hati kita.
Seperti yang sudah dijelaskan dalam surat an-Nisaā ayat 108 di mana Allah SWT berfirman,
ŁŁŲ³ŁŲŖŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų³Ł ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ³ŁŲŖŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł Ų„ŁŲ°Ł ŁŁŲØŁŁŁŁŲŖŁŁŁŁ Ł ŁŲ§ ŁŲ§ ŁŁŲ±ŁŲ¶ŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŲŁŁŲ·Ų§Ł
āMereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakanā.
Surah tersebut menjelaskan bahwa dosa dapat melemahkan hati seseorang sehingga mereka tidak lagi merasa malu meskipun diketahui sebagai pelaku keburukan oleh orang lain. Bahkan, banyak di antara mereka yang secara terang-terangan menceritakan kesalahan yang mereka lakukan. Hilangnya rasa malu dalam hati pada dasarnya dapat mendorong seseorang untuk terus melakukan perbuatan dosa. Tidak ada lagi keshalihan yang dapat diharapkan dari seorang hamba jika ia telah mencapai tingkatan seperti ini.
Jika seseorang melakukan dosa kemudian menyesalinya, hal tersebut tetap termasuk perbuatan yang melanggar larangan Allah. Contohnya, saat ini banyak kasus di mana seseorang secara sadar melakukan kejahatan dengan menonton video atau mengunjungi situs web yang tidak pantas. Meskipun secara lahiriah mereka tampak konsisten dengan ajaran agama, mereka tetap melakukan hal yang bertentangan dengan syariat. Orang seperti ini memiliki kadar keimanan yang lemah, dan syahwat dapat membutakan hati mereka hingga akhirnya terjerumus dalam keburukan. Allah SWT telah berfirman mengenai hal ini.
āHanya saja mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantunā (Ali āImran : 155).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa seseorang yang terpengaruh oleh setan dan melakukan dosa sebenarnya menyadari kesalahannya, dan Allah pun mengetahuinya. Namun, imannya belum cukup kuat untuk mencegahnya dari mengulangi perbuatan dosa. Jika ia terus melakukan perbuatan tercela, maka Allah tidak akan melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. Oleh karena itu, keadaan orang tersebut serupa dengan orang yang dihinakan, meskipun ia mengetahui bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang tercela.
"Setiap orang pernah berbuat salah, namun taubat adalah kunci penebusan".
Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu āalaihi wasallam bersabda bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan, baik besar maupun kecil. Namun, orang yang bertaubat setelah melakukan kesalahan itulah yang lebih dicintai oleh Allah SWT (HR. At-Tirmidzi). Kita harus memahami bahwa Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Bahkan, Allah lebih bahagia atas taubat seorang hamba dibandingkan seseorang yang berhasil menemukan kembali hewan tunggangannya yang hilang di tanah yang luas (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747).
Taubat yang sejati dilakukan dengan memperbanyak amal saleh serta meninggalkan segala larangan-Nya. Untuk dianggap benar-benar bertaubat, seorang hamba harus menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah SWT, kembali kepada-Nya, dan senantiasa melakukan ketaatan. Meninggalkan perbuatan buruk saja tidak cukup untuk disebut sebagai taubat yang sesungguhnya.
"Taubat adalah jalan keselamatan dari perbuatan maksiat".
Seorang mukmin yang bertobat akan memperoleh keberuntungan dan keselamatan karena Allah akan menghapus dosa-dosa yang timbul akibat perbuatan maksiat. Allah SWT berfirman,
ŁŁŲŖŁŁŲØŁŁŁŲ§Ł Ų„ŁŁŁŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁ Ų¬ŁŁ ŁŁŲ¹ŁŲ§ Ų£ŁŁŁŁŁŁ ٱŁŪ”Ł ŁŲ¤Ū”Ł ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁŁŁ Ū” ŲŖŁŁŪ”ŁŁŲŁŁŁŁ
āDan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.ā (QS. An-Nur: 24).
Ketika seseorang kembali kepada Allah SWT dan membebaskan dirinya dari dosa, hal itu disebut sebagai taubat. Sebelum mengucapkannya, seseorang harus memahami makna taubat di dalam hatinya. Ia harus selalu mengingat janji surga bagi orang-orang yang taat dan ancaman neraka bagi orang-orang yang durhaka. Dengan tekad yang kuat, seseorang berusaha meningkatkan rasa takut dan keyakinannya kepada Allah SWT. Karena itu, ia senantiasa berdoa dengan harapan agar Allah SWT menerima taubatnya serta menghapus kesalahan dan dosanya.
Bagi siapa pun yang ingin meninggalkan dosa dan maksiat, Allah SWT selalu membuka pintu ampunan-Nya. Memohon maaf, memperbanyak istighfar, dan bertobat harus menjadi kebiasaan seorang hamba. Sebab, mereka yang tidak memperoleh ampunan-Nya termasuk orang-orang yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat.
Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur
Periode 2023 / 2024



Komentar