top of page

Menakar Mentalitas Mahasiswa: Apakah Mereka Masih Merawat Nalar Kritisnya?

Diperbarui: 24 Nov 2025

Sejarah mencatat, perjuangan mahasiswa layaknya obor di kegelapan, menjadi penunjuk arahnya jalan di tengah krisis sosial-politik. Demo Tritura 1966, gerakan Reformasi 1998, dan serangkaian demonstrasi menentang kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap masyarakat menjadi saksi sejarah bahwa mereka seperti bara yang terus berkobar. Namun kini, di era penyebaran informasi yang masif dan hiruk-pikuk media sosial yang memabukkan, kita harus bertanya: masihkah obor itu berkobar terang atau sudah redup tertiup angin pragmatisme dan kenyamanan semu?


Keraguan ini muncul setelah akhir-akhir ini mahasiswa seakan-akan kehilangan panji nalar kritisnya ketika dihadapi persoalan yang dihadapi oleh lingkungan sekitar. Mereka sangat mudah tergiring opininya oleh kelompok yang memiliki kepentingan dalam mengkonstruksi opini publik. Ironis, alih-alih mempertajam nalar kritis dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran justru mahasiswa terjebak dalam opini mayoritas entah itu berkontradiksi dengan nilai dan norma tanpa melakukan konfrontasi untuk meluruskan yang seharusnya menjadi tatanan yang sesuai di masyarakat. Awalnya mahasiswa menjadi kelompok reformis dengan intelektualitas yang dimilikinya bertransformasi menjadi kelompok yang pasif dan jatuh dalam jurang pragmatisme.


Mahasiswa saat ini lebih memfokuskan kegiatan akademiknya tanpa memedulikan isu yang muncul di lingkungan sekitarnya. Entah ini dibentuk oleh suatu sistem dalam bangku perkuliahan yang memaksa mereka menyibukkan diri dengan persoalan-persoalan di dalam kampusnya ataupun memang gairah pergerakan telah luntur karena kurangnya kepedulian sosial. Ketika mereka bertindak apatis, di luar sana ada keluarga yang terlilit hutang yang disebabkan oleh kemiskinan struktural dan mereka tidak mampu menyuarakan penderitaan karena keterbatasan intelektual dan dukungan material. Peran agen perubahan yang melekat pada identitas mahasiswa diuji ketika menghadapi persoalan ini. Namun, semangat perjuangan yang dulu berkobar kini hanya terselip prestasi individual dan meraih gelar akademis. Mereka abai dengan lingkungan sekitar yang mengharapkan kontribusi nyata dari intelektual muda. Apatisme, pragmatisme, dan zona nyaman menjadi ancaman serius bagi mahasiswa.


Eksistensi Buzzer dan influencerĀ dalam mengkonstruksi opini publik menjadi salah satu faktor mereka mudah sekali dalam tergiring opini. Memang harus diakui Buzzer dan influencerĀ menjadi alat penggiring opini publik dan alat represif ketika masyarakat kontra terhadap kebijakan pemerintah. Nilai dan moral seolah-olah dibelokkan oleh mereka untuk mendapatkan kepentingan kelompoknya. Kehadiran mahasiswa yang menjadi kontrol sosial telah dikaburkan ideologinya oleh elit yang berkepentingan di suatu negara. Konsekuensinya adalah seringkali munculnya produk hukum yang tidak berkeadilan dan mengutamakan kepada kepentingan kelompok-kelompok tertentu.


Kekhawatiran penulis terhadap pergeseran perilaku mahasiswa menjadi siklus yang terjadi di masa yang mendatang. Ketika mereka acuh terhadap perannya sebagai mahasiswa, ini akan menjadi ujian berat bagi masyarakat karena mereka akan dihadapkan dengan produk hukum yang cacat dan menguntungkan kepada elit-elit tertentu. Peran mahasiswa yang dinanti oleh masyarakat luas sebagai kontrol sosial justru diperbudak oleh sistem sosial dan tekanan-tekanan oleh petahana agar mahasiswa tidak vokal kepada mereka.


Untuk menjalankan kontrol sosial diperlukan implementasi nalar kritis pada setiap pemikiran mahasiswa. Nalar kritis hanya bisa dibentuk oleh literasi dan kebiasaan terhadap diskusi dan kajian akademis. Tanpa asupan pengetahuan yang mendalam dan pertukaran gagasan yang dinamis akan menyebabkan pikiran menjadi tumpul dan mudah terombang-ambing oleh opini yang sengaja dibentuk dan propaganda menyesatkan. Literasi menjadi aspek fundamental, sementara diskusi dan kajian akademis menjadi tempat dimana mahasiswa mengasah argumentasi dan menciptakan gagasan baru. Tanpa aspek tersebut, kritisme hanya akan menjadi slogan palsu nan kosong tanpa substansi yang memiliki kemampuan dalam membawa perubahan sosial.


Referensi:

Prastiwi M., Ihsan D. (2023, 9 Agustus). Ini 5 Peran Mahasiswa dalam Masyarakat, Calon Maba Cek. https://edukasi.kompas.com/read/2023/08/09/100159071/ini-5-peran-mahasiswa-dalam-masyarakat-calon-maba-cek.

Ā 

Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Periode 2024 / 2025

Penulis : Bintang Nur Machmuda

Editor : Qanita Ammara Nabila


Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


IMM UPN "Veteran" Jawa Timur

Ikuti kami di media sosial & platform lainnya!

  • Whatsapp
  • Instagram
  • LinkedIn
  • TikTok
  • Medium

Bagikan ke teman-temanmu!

bottom of page