Cara Menikmati Hidup di Era Serba Sibuk ala Pemuda Islam Masa Kini
- immupnjatim5

- 15 Des 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 24 Nov 2025

Slow living merupakan sebuah gerakan yang awalnya berkembang di Italia pada tahun 80an sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya fast food dan industri makanan besar melalui gerakan Slow Food. Dikutip dalam buku Fast living, slow aging yang diterbitkan pada 2009 mengenai “How to age less, look great, live longer, get more”. Akronim dari kata SLOW umumnya mencakup ringkasan dari gaya hidup slow living. 'S' berarti sustainable atau berkelanjutan, 'L' mencakup penggunaan bahan atau produk lokal, 'O' berarti menghindari produk yang telah direkayasa secara genetik atau bersifat sintetik, dan 'W' merupakan whole atau keseluruhan, yang berarti tidak diproses.
Belakangan, konsep tersebut diperluas dan mencakup lebih dari sekedar hanya aspek pangan. Aspek lain seperti gaya hidup, pekerjaan dan apa yang dikonsumsi sehari-hari. Gaya hidup slow living ini menekankan pada kualitas hidup daripada kuantitas. Selain itu, gaya hidup ini tidak berarti melakukan sesuatu secara perlahan, melainkan melakukan sesuatu dengan kecepatan yang tepat. Sehingga kita bisa menikmati setiap momen yang terjadi dalam hidup.
Para ahli memberikan definisi yang berbeda-beda mengenai gaya hidup slow living ini. “Slow living" berarti menata kembali hidup di sekitar dengan pemaknaan yang penuh. Mirip dengan kesederhanaan, ini menekankan pada pendekatan yang lebih sederhana dan berfokus pada kualitas hidup. Slow living juga menjawab keinginan untuk menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan mengejar kesejahteraan holistik. Selain keuntungan pribadi, ada manfaatnya untuk lingkungan”. “Saat melambat, kita jadi lebih sering menggunakan lebih sedikit sumber daya sehingga limbah yang dihasilkan pun sedikit. Ini memberikan dampak baik untuk bumi.” — Beth Meredith dan Eric Storm (dalam artikel aozora dee di laman yoursay.id)
Pemuda, salah satu tonggak dan tolak ukur kemajuan peradaban. Sebagai generasi milenial yang berlandaskan pada pengetahuan agama Islam. Bagaimana peran kita dalam menyikapi hal tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Apakah sudah sesuai dengan generasi muda Islami masa kini?
Dalam waktu 24 jam, sebagai individu yang aktif kita dituntut harus bisa memanage waktu untuk menuntaskan setiap pekerjaan yang kita lakukan. Manusia mengerjakan hal-hal sesuai dengan kebutuhan dan perannya dalam kehidupannya masing-masing. Semakin sibuk, maka semakin dinilai sebagai individu yang produktif. Begitulah stereotipe yang dipasang oleh masyarakat umumnya. Selain urusan duniawi, tentu kita tidak bisa terlepas dari kebutuhan akan makanan rohani seperti dengan memenuhi urusan ukhrawi.
Kegiatan yang bersifat urusan duniawi kadang lebih mudah untuk dilakukan oleh mayoritas kebanyakan orang. Hingga tanpa disadari, waktu yang digunakan untuk urusan ukhrawi dengan Sang Pencipta menjadi berkurang bahkan terlena kan. Dijelaskan dalam surah Al-Anbiya’ ayat 37 sebagai berikut:
خُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُو۟رِيكُمْ ءَايَٰتِى فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ
“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”
Intisari dari ayat diatas Allah SWT berfirman bahwa manusia itu tabiatnya tergesa-gesa, baik dalam mengerjakan sesuatu, pengambilan keputusan, dan bahkan kurangnya pengendalian emosi dan kestabilan diri. Padahal sudah diterangkan bahwasanya Allah SWT memerintahkan agar tidak meminta sesuatu kepada-Nya dengan tergesa-gesa hingga terpedaya hawa nafsu. Bisa jadi dengan menerapkan gaya hidup slow living kita dapat lebih menikmati setiap aspek kehidupan yang sedang dijalani dan tentu menemukan makna yang lebih berarti akan arti kehidupan yang sesungguhnya.
Slow living menjadi salah satu trend masa kini yang jika kita pelajari akan memiliki pesan dasar mengenai bagaimana cara mengkonsumsi sesuatu lebih sedikit dan mengambil pendekatan yang lebih lambat untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Pola pikir yang membuat kita menyusun gaya hidup yang lebih bermakna dan sadar dengan apa yang paling kita hargai dalam hidup.
Mensyukuri waktu yang telah diberikan oleh Allah Swt. dengan cara merayakan hidup penuh dengan pertimbangan akan kualitas daripada kuantitas. Namun demikian, slow living bukan berarti mengajarkan kita untuk bermalas-malasan karena seperti yang termaktub dalam Q.S. Al-Insyirah ayat 7 berikut ini:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”
Dalam Tafsir Al-Misbah milik Quraish Shihab menjelaskan bahwa dari segi bahasa, kata faragha bermakna kosong dan dapat disimpulkan bahwa ayat tersebut terdapat perintah untuk memanfaatkan kesempatan akan waktu yang telah Allah SWT berikan kepada hamba-Nya, agar produktivitas antara urusan ukhrawi dan duniawi menjadi lebih seimbang. Maka dari itu di era yang serba praktis dan cepat ini, tak heran jika banyak manusia terlena akan tuntutan sesuai dengan keadaan zaman. Slow living dapat menjadi salah satu solusi untuk menghindari serta mengurangi sikap terburu-buru dalam diri untuk lebih menikmati hidup yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.
Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur
Periode 2023 / 2024
Penulis : Dini Hiqmatul Hayati Editor : Alfia Nur Aulia



Komentar